Selasa, 25 September 2012

Cara Daftarkan Perguruan Ke IPSI


IPSI sebagai wadah yang dibentuk dan diakui oleh pemerintah bertugas menaungi perguruan-perguruan pencak silat. Menurut saya, seharunya IPSI bersifat aktif dalam melaksanakan tugasnya baik itu mendata perguruan-perguruan pencak silat maupun mengadakan event-event pencak silat, tapi sepengamatan saya IPSI tidak terlalu aktif dalam mendata perguruan-perguruan pencak silat sehingga banyak perguruan-perguruan yang kesannya asing dengan IPSI.

Jika pihak IPSI tidak terlalu aktif dalam mendata perguruan-perguruan pencak silat yang ada maka perguruan-perguruan tersebutlah yang harus aktif mendaftarkan diri ke IPSI, agar dapat pembinaan dari IPSI.

Bagaimana caranya dan syaratnya apa saja?

Cara untuk daftarkan perguruan ke IPSI adalah datangi kantor IPSI terdekat, bawa syarat-syarat yang diperlukan isi formulisnya deh, hehehehe, Berikut penjelasan lebih lengkap.

Untuk menjadi anggota IPSI Kecamatan, organisasi dan/atau perguruan pencak silat
yang bersangkutan mempunyai anggota aktif sekurang-kurangnya 25 orang (Biasanya yang diminta adalah jajaran pengurus dan pelatih)

Untuk menjadi anggota IPSI Kabupaten / Kota, organisasi dan/atau perguruan
pencak silat yang bersangkutan mempunyai jumlah Kecamatan sekurang-kurangnya
seperempat (1/4) dari jumlah IPSI Kecamatan yang terdapat di wilayah kerja IPSI
Kabupaten / Kota bersangkutan. Ketentuan ini tidak berlaku bagi Kabupaten / Kota
yang belum mempunyai IPSI Kecamatan dan hanya ada satu (1) organisasi dan/atau
perguruan pencak silat di wilayahnya, organisasi dan/atau perguruan pencak silat
bersangkutan dapat secara langsung mendaftar menjadi anggota IPSI Kabupaten /
Kota yang terkait.

Untuk menjadi anggota IPSI Provinsi, organisasi dan/atau perguruan pencak silat
yang bersangkutan harus mempunyai jumlah Cabang yang seluruhnya telah menjadi
anggota IPSI Kabupaten / Kota sekurang-kurangnya setengah (1/2) dari jumlah IPSI
Kabupaten / Kota yang terdapat di wilayah kerja IPSI Provinsi bersangkutan.

Untuk menjadi anggota IPSI Pusat, organisasi dan/atau perguruan pencak silat
yang bersangkutan harus mempunyai jumlah Wilayah dan/atau Cabang yang seluruhnya
telah menjadi anggota IPSI Provinsi sekurang-kurangnya pada 10 dan/atau setengah
(1/2) + satu (1) IPSI Provinsi.

Dalam memenuhi persyaratan untuk mendapatkan keanggotaan IPSI, organisasi
dan/atau perguruan pencak silat harus mengisi formulir yang dapat diperoleh dari
pengurus IPSI setempat dan menyerahkan kembali bersama dengan lampiran-lampiran
lain, yaitu :

1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi dan/atau perguruan yang
sejiwa dan selaras dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IPSI.
2. Penjelasan tentang sumber aliran dan sejarah berdirinya organisasi dan/atau
perguruan pencak silat bersangkutan (Alangkah baiknya disebutkan dengan jelas asal keilmuan sang gurunya)
3. Susunan pengurus dan jumlah anggota.
4. Surat pernyataan kesanggupan menjunjung tinggi nama dan kehormatan IPSI dan
mendukung serta berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kebijakan dan program
IPSI.

Formulir yang telah diisi dan lampiran-lampirannya diserahkan kepada pengurus
IPSI yang bersangkutan, yaitu :
Untuk keanggotaan IPSI Pusat kepada PB IPSI.
Untuk keanggotaan IPSI Provinsi kepada Pengprov IPSI.
Untuk keanggotaan IPSI Kabupaten / Kota kepada Pengkab / Pengkot IPSI.
Untuk keanggotaan IPSI Kecamatan kepada Pengcam IPSI.

Pengurus IPSI yang bersangkutan melakukan penilaian terhadap kebenaran
syarat-syarat dan pengisian formulir keanggotaan IPSI dan lampiran-lampiran yang
telah ditentukan.

Apabila semua syarat dan formulir keanggotaan IPSI beserta lampirannya dinilai
cukup benar, maka organisasi dan/atau perguruan pencak silat yang bersangkutan
diberi sertifikat (surat keterangan) keanggotaan IPSI. Duplikat sertifikat
tersebut dikirim kepada pengurus IPSI setingkat di atasnya dan kepada PB IPSI.

Nah sudah tau kan bagaimana cara daftarnya, jadi kalau sudah bisa terpenuhi syarat-syaratnya tak ada salahnya daftar ke IPSI.

Kemudian muncul pertanyaan apakah jika pencak silat tradisonal mendaftarkan diri ke IPSI maka harus mengikuti pertandingan?

Menurut saya TIDAK HARUS, karena pendaftaran hanya berakibat hukum diakui dan berhak dapat pembinaan. Perguruan pencak silat tradisional sebaiknya mempertahankan ciri khasnya, karena pencak silat tanding berakar dari pencak silat tradisional. Jika yang tradisional sudah tidak ada maka kemudian silat tanding seperti duel biasa saja.

Sekian.

Sumber,(lupa)

Jumat, 20 Juli 2012

Penerimaan Anggota Baru 2012-2013

Tiap tahunnya pastd syahbandar mengadakan kegiatan penerimaan anggota baru yang bisanya diadakan bersamaan dengan penerimaan siswa baru pada bulan juli. seperti biasa, selalu diadakan atraksi sebagai perkenalan di beberapa sekolah. kali ini atraksi diadakan di SMKN 2 TANGERANG pada hari minggu, SMAN 6 TANGERANG DAN SMKN 4 TANGERANG pada hari rabu.

Persiapan atraksi telah dilakukan sejak akhir bulan lalu di masing-masing cabang, ya seperti biasa saja atraksinya berupa beberapa teknik jurus dan aplikasi. 

semoga hasilnya tidak mengecewakan.

Jumat, 18 Mei 2012

Berkelahi Tanpa Menyakiti



Berkelahi Tanpa Menyakiti
Ameng Timbangan,
Menemukan keseimbangan manusia dalam penjara, Raden Anggakusumah mengajarkan pekerti luhur dan menyelaraskan gerak. Hindari kekuatan lawan, alihkan serangan, duduki posisinya. Tapi, jangan sakiti lawan tak berdaya.

Gending Raspuzi mempraktekan aplikasi ameng timbangan dalam mengantisipasi pukulan dengan tetap menyelamatkan lawan.
Wajah Gending Raspuzi mendadak serius. Tatapannya fokus menghadap lawan. Dengan sigap, lelaki yang akrab disapa Kang Gending itu menepis pukulan yang mengarah wajahnya. Sejurus kemudian, praktisi Ameng Timbangan ini menjatuhkan lawan tanpa melukainya.
Selama ini, memang tak banyak yang mengetahui Ameng Timbangan seperti yang dilakukan Kang Gending. Beladiri asli Bandung ini terkesan tertutup dan jauh dari publikasi. Namun beladiri ini oleh penciptanya tidak dipandang sebagai salah satu aliran pencak silat. Hanya, pandangan umum tetap menganggapnya salah satu aliran pencak silat lain.
Muncul pertama kali di Bandung pada 1927, Ameng Timbangan digagas Raden (Rd.) Anggakusumah, putra Rd. Haji Adra’i, penghulu kepala di Sumedang. Menurut Kang Gending, Rd. Anggakusumah sebelumnya tak pernah belajar pencak silat, juga tak menganut aliran pencak silat yang ada. Jadi, Ameng Timbangan benar-benar temuan orisinal Rd. Anggakusumah sendiri.
Menurut sang cucu, Rd. Darajat Anggakusumah, biasa disapa Kang Aom, Ameng Timbangan memang bukan pencak silat. “Karena timbangan itu prinsipnya untuk menyelamatkan diri. Baik diri sendiri maupun lawan. Makanya, dalam timbangan tak ada pukulan maupun tendangan,” ujarnya.
Ameng Timbangan, tutur Kang Gending, dipelajari dalam beberapa tahapan. Awalnya calon murid harus memahami lebih dulu filosofi Timbangan. Biasanya itu dilakukan lewat dialog dalam beberapa pertemuan. “Saya sendiri tujuh kali bertemu hanya mengobrol saja, tidak juga diajari Timbangan,” kata Kang Gending, murid Rd. Muhyidin Angga kusumah (ayah Kang Aom).
Sekilas, obrolan itu tak penting. Namun sebenarnya itu menjadi salah satu ujian bagi calon murid. Ya, filosofi Timbangan yang dikemas dalam obrolan ringan justru erat berhubungan dengan teknik yang dipelajari. Lewat tanya jawab, seorang guru dapat menilai mental dan moral muridnya.
Lebih jauh, menurut filosofi Rd. Anggakusumah, manusia bakal selamat bila memegang teguh prinsip cageur (sehat jasmani), bageur (berkelakuan baik), dan bener (berbuat benar). Ketiga unsur ini dilengkapi kembali oleh Rd. Muhyidin dengan enam pegangan lain, sehingga menjadi sembilan (sangawedi): Ati-ati (hati-hati), taliti (teliti), gumati (sungguh-sungguh), toweksa (cermat), wiwaha (penuh pertimbangan), dan waspada. Setelah melewati tahap pembinaan mental dan spiritual, barulah para murid diberi pelajaran jasmani.

Gending Raspuzi mempraktekan gerakan ameng timbangan.
Menurut Kang Gending, tahap pertama pendekar Timbangan menghadapi lawan adalah bicara dari hati ke hati. Bila kata-kata lemah lembut tidak diterima, dan lawan tetap mengandalkan kekerasan, barulah pendekar Timbangan melawan secara jasmani. Kendati, itu hanya untuk menguasai posisi atau kedudukan sedemikian rupa, sehingga lawan sulit menyerang namun mudah diserang. Ini terus menerus dilakukan atau dikuasai, tapi tidak dimanfaatkan untuk menyakiti lawan. Dengan demikian, di pihak lawan, diharapkan timbul kesadaran bahwa pendekar Timbangan tidak bermaksud buruk.
Untuk merebut kedudukan atau posisi ideal, pendekar Timbangan akan memberi kesempatan lawan untuk menyerang. Arus tenaga tidak ditangkis, karena Ameng Timbangan tak menggunakan teknik tangkisan. Namun serangan itu dibelokkan atau dielakkan agar kedudukan lawan menjadi labil. Dalam kondisi labil, pendekar Timbangan segera melakukan penutupan atau perebutan posisi, sesuai tujuan yang dikehendaki.
Toh, untuk melaksanakan taktik yang seakan-akan sangat sederhana itu tetap dibutuhkan keterampilan pelbagai jenis teknik. Seperti, kepekaan rasa yang memungkinkan pendekar Timbangan mampu menangkap atau mengantisipasi dengan cepat, situasi yang sedang dihadapi. Tak cuma itu, ia juga harus punya kecepatan reaksi. Sebagai seni beladiri tanpa kekerasan, dan dalam sasaran strateginya hanya berusaha menempati atau menguasai posisi, unsur kecepatan sangatlah penting.
Setelah itu, ia harus mampu menghitung dan menetapkan jarak dengan lawan. Dengan penguasaan jarak yang tepat, ia dapat mengantisipasi sekaligus menguasai kemungkinan serangan. Penilaian tepat terhadap jarak akan mampu menghindarkan serangan lawan dan merebut kedudukan secara tepat.
Selanjutnya, ia harus mampu mengendalikan tubuh lawan serta seluruh anggota tubuhnya. Untuk itu, dibutuhkan kepekaan rasa dan gerak cukup tinggi. Teknik menempel dan merapat, khusus digunakan untuk perkelahian jarak dekat. Dengan kemampuan menilai sikap dan posisi jasmani seseorang, kita akan mendapatkan gambaran tentang gerakan yang mungkin dilakukan lawan.
Sementara itu, gerakan menyalurkan tenaga lawan berupa penghindaran atau pengalihan lintasan gerak lawan lewat pembelokan, dilakukan dengan tenaga sekadarnya. Adapun melepas kuncian atau cekikan tidak berbeda dengan teknik aliran pencak silat lain. Prinsipnya, tetap menggunakan tenaga sekadarnya namun dengan efektivitas tinggi. Akhirnya, pendekar Timbangan harus dapat menghindari serangan lawan dan berusaha menyalurkannya ke tempat lain, sampai tenaga lawan terkuras dan posisinya labil.
Untuk tahap ini, pendekar harus menguasai beberapa jenis langkah. Misalnya, langkah lurus (maju mundur), serong (maju mundur), menyamping, dan balik arah. Setiap gerakan harus lambat, lembut, dan santai. Setiap perpindahan berat tubuh harus benar-benar dihayati, agar ditemukan rasa keseimbangan. Sehingga, setiap gerak terkesan tanpa arti, kosong, bersih, dan tanpa niat mencelakakan orang lain. Lawan yang menyerang biasanya akan celaka sendiri akibat perbuatannya. Bahkan, pendekar yang telah menghayati Ameng Timbangan justru akan menyelamatkan lawannya agar tidak terjatuh. Kalau toh jatuh, ia akan segera membangunkannya.
Mempelajari beberapa langkah atau kuda-kuda dalam gerak lambat ini dimaksudkan untuk bersiap menghadapi lawan yang mengerahkan beragam jenis kuda-kuda. Mengombinasi langkah-langkah yang telah dipelajari juga sangat penting, agar dapat bergerak terus tanpa canggung, serta berpindah dari satu posisi ke posisi lain.
Mungkin, karena kekhasan ujaran dan jurus itulah perkembangan Ameng Timbangan tidak sepesat aliran pencak silat lain. Itu memang akibat beratnya pendidikan ruhani atau mental spiritual calon murid. Mereka yang tak punya kesabaran dan motivasi tinggi serta mudah bosan, biasanya akan segera meninggalkan Ameng Timbangan. Tapi bagi yang sabar, akan sering diajak guru untuk berdialog.
Selain itu, jurus-jurus Ameng Timbangan tidak terlihat atraktif dan cenderung membosankan. Latihan mengulang gerakan dalam gerak lambat, umumnya tidak begitu diminati kawula muda. Tapi, justru itulah tantangan yang harus dilalui dengan baik agar hasilnya dapat dirasakan dan dihayati.
Seperti gerakan atau seni beladiri lain yang lahir di masa kolonialisme, keberadaan Ameng Timbangan tak luput dari kecurigaan pihak penjajah Belanda. Berkali-kali Belanda mengutus mata-mata untuk mengawasi kegiatannya. Kebetulan, kegiatan awal Ameng Timbangan berupa pembacaan kitab, tak ubahnya pengajian. Mata-mata itu pun menilainya tidak mengkhawatirkan. Padahal, setelah acara membacaan kitab, mereka mulai melakukan gerakan yang sudah tidak lagi diawasi. Bahkan, mata-mata itu akhirnya membelot dan bergabung untuk mempelajari Ameng Timbangan, karena menurutnya memang bermaksud baik.
Dari segi geraknya, banyak kalangan menilai Ameng Timbangan mirip Taichi, seni beladiri asal China. “Sewaktu belajar Timbangan, saya juga sengaja belajar Taichi. Saya ingin buktikan apakah keduanya saling terkait satu sama lain. Ternyata tidak,” ungkap Kang Gending. Kalau toh prinsipnya sama (mengajarkan keseimbangan), namun dalam Timbangan, keseimbangan yang dibutuhkan bukan cuma fisik, tapi juga mental. Itulah pekerti luhur jasmani ruhani yang diinginkan penggagas Ameng Timbangan.
Menemukan Keseimbangan dalam Penjara
Semasa muda, Rd. Anggakusumah aktif dalam organisasi politik Syarikat Islam, Bandung. Sikap kritisnya terhadap kondisi sosial politik kala itu membuatnya ditangkap aparat Belanda dan dijebloskan ke penjara Banceuy, 1919. Di situ , ia banyak bergaul dan berdiskusi dengan tokoh pergerakan lain.
Hasilnya, tercetus gagasan untuk menyelamatkan manusia dalam kehidupan fana ini. Rd. Anggakusumah menyimpulkan, segala sesuatu di dunia ini selalu berada dalam harmoni atau keseimbangan. Hasil renungannya dibukukan dalam tiga kitab berbahasa Sunda, yang ditulisnya dalam bentuk guguritan (tembang): Gurinda Alam Rohani Majaji (Guaroma), Imam Bener Tetengger Allah (Ibtat), dan Sareat, Tarekat, Hakekat, Makrifat (Satahama). Kitab-kitab itulah yang dianggap awal terciptanya beladiri Timbangan. Bentuk latihannya masih berupa diskusi antartahanan, demi membentuk kepribadian kuat. Pada perenungan berikutnya, ia menjumpai banyak orang lemah menderita akibat ditindas orang kuat, sekalipun korban berada di pihak yang benar.
Sejak itu, Rd. Anggakusumah mulai memikirkan latihan jasmani sebagai bagian sistem beladiri Timbangan. Ia yakin, seperti alam, gerak tubuh manusia selalu dalam keseimbangan. Tak lama, ia dipindahkan ke penjara Sawah lunto, Sumatera Barat. Di sana, ia disatukan dengan para penjahat dan pembunuh. Di tempat itulah hasil renungannya sempat dipraktikkan untuk melumpuhkan narapidana gila yang mengamuk serta menyadarkan jagoan yang iri.
Nama Timbangan diciptakan Rd. Anggakusumah karena sangat sesuai dengan filosofi yang diyakininya. Timbangan merupakan alat ukur untuk menilai sesuatu, serta menimbang salah dan benar. Ajaran dan ujaran dalam tiga kitab itu hanya dapat dipelajari murid Ameng Timbangan, Namun seperti pengajian umumnya kitab itu dibaca bersama.
Rd. Anggakusumah wafat 1979 dan di makamkan di Nyengseret, Bandung.
Winda Destiana

Senin, 30 April 2012

SERAGAM LATIHAN

Liat kan foto-foto diatas, berbagai macam seragam silat tuh.

Seragam, Hakikatnya sebuah kain yang menutupi tubuh ketika latihan untuk melindungi tubuh dari panas, dingin dan yang lainnya, tapi kemudian menjadi sebuah identitas keanggotaan sebuah perguruan.

Bagaimana sikap anda terhadap seragam silat anda?


saya punya kenalan yang bisa menerima pesanan seragam silat, baju seragam lainnya
Andreas 085811230565, harga tergantung bahan, kalo pesan banyak biasa bisa lebih murah, bilang saja tau dari dolly...

Sabtu, 17 Maret 2012

Belajar dari Silat

Saya bukanlah seseorang yang ahli dalam melakukan berbagai teknik silat, saya saja untuk lulus uji materi tendangan baru bisa mendapat nilai bagus setelah 3 tahun belajar silat, kemudian setelah itu masih perlu banyak  pendalaman materi untuk tendangan mengingat keadaan badan saya yang gemuk, kadang sulit melakukan tendangan-tendangan tinggi atau yang banyak melakukan awalan.

Setelah teknik tendangan barulah masuk ke tahap berikutnya yaitu rangkaian radikal yang terdiri dari banyak gerakan, baik gerakan tangan, tubuh maupun kaki. Rangkaian radikal itu membutuhkan banyak aspek, seperti, kecepatan, ketepatan, pemahaman, tenaga dan keluwesan. Terkadang saya sulit mengaplikasikan dan menggambarkan kondisi untuk gerakan yang diajarkan, tapi perlahan dengan terus melatihnya maka mulailah saya mengerti untuk apa dan digunakan dalam keadaan apa gerakan-gerakan tersebut walau belum pernah mengaplikasikannya secara nyata, karena belum pernah berantem beneran.

Setelah tendangan dan rangkaian radikal barulah masuk ke percobaan sparing, bener-benar diuji mental, selain grogi karena menjadi pusat perhatian sekaligus grogi menghadapi lawan yang sebenarnya adalah kawan latihan sendiri. Dalam latihan tahap ini benar-benar sungguh pikiran kita dikuras mengenai mau apa dan harus bagaimana menghadapi lawan ini. Disanalah saya sadar bahwa TEORI DAN PRAKTEK ITU BISA BERBEDA.

Saya akhirnya sadar jika belajar pencak silat itu bukan hanya belajar gerakan tapi juga belajar pemahaman yang mendalam dan perlu membuka mata lebih lebar lagi. Pemahaman tak hanya didapat dari pelatih saja tapi juga bisa didapat dari sumber-sumber lain seperti praktisi beladiri lain maupun dari sumber-sumber tertulis. Untuk bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam haruslah menanamkan sifat kehati-hatian karena apa yang dikatakan atau didengarkan belum sepenuhnya benar, dapat diplikasikan dan sesuai dengan apa yang kita pelajari. Selain kehati-hatian haruslah juga ditanamkan sifat lapang dada, jangan mudah menyangkal atau menghina pendapat orang lain, teliti dulu apa iya seperti yang mereka katakan atau mereka tulis.

Teknik dasar? Saya baru belajar teknik dasar gerak tangan sekitar 3 tahun lalu. Awalnya agak canggung belajar teknik dasar lagi setelah belajar rangkaian radikal dan jurus lainnya, tapi saya disadarkan betul bahwa teknik dasar itu penting, selain untuk menunjang gerakan yang diajarkan sebelumnya (gerakan lanjutan berupa rangkaian radikal), teknik dasar juga berguna menghindari tubuh kita dari cidera.

Jujur saja saya belajar lebih banyak mengenai tindakan dan sikap dari silat dibandingkan dari sekolah. Saya bukanlah anak yang gampang bergaul, bahkan sedikit judes dan sombong, kadang gak percaya diri dalam melakukan sesuatu, tidak hati-hati dan mau menang sendiri. Dari Silatlah saya belajar bergaul, belajar ramah, belajar hati-hati agar tak kena masalah dan belajar berlapang dada.