Tampilkan postingan dengan label sekedar pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekedar pikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

Perlu berapa lama belajar silat?

Belajar adalah sebuah proses yang dilakukan terus menerus. Belajar bukan hanya mengenai ilmu-ilmu disekolah tetapi juga banyak ilmu lainnya, dari kita bayi kita mulai belajar tengkurap, merangkak, berjalan, berlari, makan dan bermain sampai saat ini kita belajar disekolah dan belajar di masyarakat. Belajar juga mengenai sikap, cara berpikir, cara bicara bahkan cara beribadah.

Belajar dilakukan dari membuka mata hingga menutup mata, selama mungkin dan dengan cara apapun. Belajar mempunyai tujuan agar hidup membawa manfaat baik bagi diri maupun orang lain.

Kali ini saya akan membahas mengenai belajar silat.
Belajar silat, apa sih gunanya belajar silat?
Belajar silat beguna untuk mengolah kemampuan fisik seseorang, baik untuk kesehatan maupun untuk beladiri. Belajar silat juga melatih pemikiran dan hati, baik bersikap dan berpikir seperti ksatria ataupun manusia baik hati, serta manusia yang menghargai seni.

Perlu berapa lama untuk belajar silat?
Belajar silat sebenarnya mudah asal ada kemauan dan disiplin, bisa sehari, seminggu, sebulan, setahun, 10 tahun, bahkan bertahun-tahun. Tak ada batasan waktu dalam belajar silat, satu jam pun bisa dikatakan telah belajar silat, tapi silat seperti apa yang dimaksud, apakah setelah belajar kita bisa membawa manfaat atau kita bisa memanfaatkan apa yang kita pelajari?

Banyak orang yang mulanya belajar silat hanya untuk kesenangan saja, dari sekedar mencari teman, mencari keringat atau hanya sekedar memuaskan rasa keingin tahuan lama-kelamaan tanpa disadarinya telah belajar silat sampai bertahun-tahun, banyak hal yang telah dikorbankan untuk belajar silat, entah itu waktu maupun uang bahkan bisa jadi pengorbanan dari diri sendiri.

Mengapa mereka bisa belajar sampai bertahun-tahun, bahkan rela banyak hal mereka korbankan?
Jawabannya adalah mereka berusaha terus mencari apa manfaat dari belajar silat itu sendiri. Jika mereka telah menemukan satu manfaat dari belajar silat, kemudian mereka mulai mencari cara untuk menggunakannya dengan terus berpikir dan berlatih, terus seperti itu sampai mereka menutup keinginan untuk bermanfaat.

Manfaat apa yang kita inginkan sebenarnya ketika mau belajar silat? kesehatan, punya banyak teman, hanya untuk bergaya dan jago-jagoan atau untuk mengabdi diri sepenuhnya pada silat?
Tentu saja banyak manfaat dari belajar silat, coba saja tanya pada guru-guru silat atau pecinta-pecinta silat. menulis dengan kata-kata tentu tak akan cukup. Akan banyak kisah heroik, menyentuh hati bahkan sedih dibalik manfaat beljar silat yang disebarkan.

Itulah sedikit pemikiran saya
Belajar silat boleh hanya satu jam
tapi apa manfaat yang didapat?
Belajar silat bertahun-tahun
tapi apa manfaat yang didapat?
Berpikirlah, manfaat apa yang kamu cari dari belajar silat.

Salam Silat.
DM

Kamis, 19 Mei 2011

hanya ini yg bisa kubagi


by Iwan Setiawan on Thursday, 19 May 2011 at 23:45



Nasehat Pesilat Ketika Anaknya Hendak Belajar Silat Pada Orang Lain


Nak, jika engkau hendak berguru silat pada seseorang hendaknya kau cam ini ;
Jika kau telah hendak datang kepadanya.
Berarti setidaknya kau telah mempercayainya, jagalah kepercayaan itu
Jika kau telah sampai tempatnya
Berarti kau sudah telah ada niat untuk belajar
Maka rendahkanlah dirimu di hadapannya karena kau datang untuk menjadi muridnya
Jika pada waktunya sampai kau belajar dan menerima pelajarannya
Namun kau pernah tahu dan lihat, anggaplah itu latihan mengingat apa yang telah kau ingat. Jangan menganggap dirimu telah hebat, tetaplah hormat padanya
Jika belum, janganlah kau anggap remeh, karena kadang hal remeh dapat mencelakakan seperti halnya kebocoran kecil pada kapal besar
Tetaplah jujur pada dirimu
Andaikan yang kau jadikan guru bertubuh kecil dan telah berumur lanjut maka tetap hormatlah padanya tanpa harus melihat hal itu.
Begitu juga jika gurumu bertubuh tinggi besar dan tegap dan berumur tak jauh darimu tetaplah hormat layaknya murid
Berpikirlah baik dan ambil pengandaian yang setara dalam benakmu
Andai saja kau merasa lebih kuat dan tubuhmu lebih besar daripadanya namun  ia mahir dalam berjurus, maka lihatlah dan rasakan pada dirimu dan teruslah berpikir, ” jurus orang yang lebih kecil ini mampu menahan yang lebih besar, bagaimana jika aku yang besar menguasainya?”
Jikalau ia telah tua dan berumur maka berpikirlah,”setua ini masih begitu bagus dan mampu mahir dalam berjurus apalagi saat muda dulu?” dan berpikirlah,” sanggupkah dirimu sepertinya saat setua itu?”
Kalaupun gurumu itu muda, kuat dan berbadan tegap melebihimu maka tetaplah berbaik pikir dan sangka, dan tetapkan dalam hatimu,”aku harus sekuat dan semahir dia jika belajar ini nanti”
Pada saatnya nanti kau akan temui hal yang baru yang belum pernah kau alami dan terasa asing  
Tanyakanlah dengan niatan tulus bertanya dengan tidak menghakimi
Banyak hal berbentuk perlambang yang akan kau temui sebagai bentuk kesantunan dan tata krama adab timur maka datanglah sebagai orang yang mencoba mafhum dan memahaminya
Andai gurumu meminta sebutir telur sebagai syarat menjadi murid, pahamilah bahwa kau datang sebagai “telur’ yang harus dierami hingga tumbuh menjadi ayam yang memerlukan induk. Jika makna simbolis ini tak juga kau pahami, anggaplah telur itu untuk lauk teman makan gurumu yang dapat memberi protein sebagai asupan gizi di sarapan paginya.
Bisa jadi kau akan temui guru yang mensyaratkanmu membawa pisau tumpul atau mungkin juga meminta pisau yang tajam. Maka pahamilah bahwa kau datang memang “tumpul” dalam keilmuan yang belum kau pelajari darinya, ikhlaslah kau di”asah” olehnya. Namun jika meminta pisau tajam, maka itu berarti pemberian pisau tajam itu bermaksud memotong ke“aku”an dan kesombonganmu, ikhlas kau jika ditegur dan dinasehatinya. Namun jika kau tak juga mau mengerti kedua hal ini, tetaplah berbaik sangka. Mungkin gurumu memang memerlukan pisau entah untuk dapur atau keperluan lainnya. Tak susah memberikan sepotong pisau padanya bukan?
Atau ada syarat yang meminta garam dan cabai merah, itu memiliki makna bahwa kau jika belajar di silat harus hingga te “rasa” dan jangan kepalang tanggung. Jika harus asin maka haruslah seperti garam di laut atau jika pedas maka harus bagaikan cabai merah. Tapi jika dalam benakmu ada perasaan “menolak” meski secuil karena urusan rasional maka berpikirlah, guru hanya meminta cabai dan garam… mungkin ia memerlukannya. Penuhilah karena hal itu mudah….
Jika ia meminta syarat kembang tujuh rupa dan kau harus dimandikan saat malam selesai berlatih dan pemahamanmu tak sampai hingga masalah energi dan hubungan antara kembang-kembang dalam air itu untuk apa, maka anggaplah itu agar kau segar dan tak lagi berbau keringat setelah selesai belajar silat dan tetaplah berpikir jernih mungkin jaman guru dari guruku dulu belum ada sabun. Dan anggaplah itu sabun alami yang baik ketimbang yang terbuat dari bahan kimia.
Jika ada permintaan selembar kain untuknya maka pahamilah bahwa memang seharusnya murid memberikan kebutuhan pakaian sang guru, jika kau berlebih belikanlah pakaian yang terbaik untuk gurumu.
Jika kau dapati ia meminta beras secupak atau setanggang… pahamilah bahwa memang sepantasnya dan seharusnyalah murid dalam menuntut ilmu tak boleh mengganggu kebutuhan dapur sang guru, maka penuhilah kebutuhan hariannya jika kau sanggup. Jangan meremehkan permintaannya yang hanya meminta beras secupak apalagi menertawakannya dengan menganggap betapa “murah”nya belajar padanya, tidak nak… ilmu silat itu sangat berarti dan tak ternilai, ketika kau memberi gurumu beras yang sedikit itu dengan merendahkan dan menertawakannya berarti hargamu dan pemahamanmu hanya sampai beras secupak itulah, maka janganlah kau persempit pemikiranmu hanya sampai di sana.
Jika ia bilang padamu bahwa tak ada bayaran atau bayar seikhlasnya dalam belajar silat, maka pahamilah bahwa silat memang tak sepadan dengan nilai uang maka berikanlah yang terbaik. Jika ia meminta seikhlasnya, janganlah kau anggap bahwa hanya sepeser dua peser uangmulah yang cukup untuknya. Namun ia meminta muridnya senang hati membantu gurunya. Maka berpikirlah kau dalam posisinya, manakah yang akan membuatmu ikhlas sebagai guru jika menerima lima puluh ribu atau lima juta? Tentunya kita akan sangat ikhlas menerima rejeki yang lebih besar. Maka ukurlah keikhlasanmu itu juga dengan keikhlasan menerima gurumu. Jika tak mampu memberi besar maka memberikanlah yang cukup. Jika kau tak mampu juga dengan materi, bantulah dengan tenagamu, pikiranmu dan pengabdianmu.
Jika kau dapati acara kecer, peureuh atau teteskan mata dengan air sirih maka berpikirlah bahwa memang diperlukan membersihkan matamu saat telah belajar silat jika kau tak mampu memahami hingga ke hal tersebut. Anggap itu sebagai perhatian gurumu pada muridnya
Bilamana kau temui bahwa selesai belajar jurus gurumu mengurut / memijat tangan murid satu persatu dan seringkali dianggap sebagai “menurunkan elmu” maka jika kau tak mau berpikir demikian, tetaplah berpikir baik, itu mungkin salah satu kebaikan seorang guru untuk menghilangkan efek latihan seperti cidera atau pegal atau apalah yang ada di tangan muridnya, ia mau mengurut atau memijatnya. Dan jangan beranggapan dengan diurut kau bisa semua ilmu yang ada di gurumu dan tahu segalanya, karena dalam silat hanya mengenal yang terus belajar dan mengasah serta mengertilah yang akan tajam keilmuannya.
Jika ada yang bertentangan dengan apa yang kau tahu, janganlah lantas kau mencerca dan mencacinya di belakang. Akan tetapi tetaplah lihat dalam sisi baiknya. Kalau saja gurumu dalam pengetahuan agama Islam kurang dan menganggap bahwa ayat dan bacaan dalam menghalau ini itu, atau dengan “hanya” bismillaah dia dapat tak mempan dibacok. Janganlah lantas kau hakimi dia, renungkanlah bahwa dengan bismillaahnya orang yang berpengetahuan agama sedikit dibandingmu, kenapa mampu membukakan pintu langit hingga Allah melindunginya dari senjata tajam yang mengenai kulitnya? Terlepas dari bantuan jin atau apa, ini tetap adalah kebaikan Allah yang rahman pada mahluk-Nya. Belajarlah tentang apa yang menjadi keikhlasannya hingga mampu mengetuk pintu langit. Jika masih juga pikiranmu tak menerima hal ini, maka anggaplah…. Sungguh Maha Kuasa dan Maha Penyayang Allah pada mahluk-Nya, hingga semua yang tak mampu akal terima bisa kau lihat.
Agama kita tak pernah melarang menimba ilmu pada siapapun untuk kebaikan, meski yang akan kau pelajari membuat panah sekalipun atau pedang yang dalam benak setiap orang itu adalah alat untuk membunuh. Namun tidak demikian dalam hidup ini, nak. Panah mungkin untuk bisa untuk membunuh, namun banyak orang di hutan belantara sana yang memanah untuk kebutuhan makan yang akan menghidupi keluarganya yg jika mereka hidup dapat menjalankan kewajiban untuk Tuhannya. Pedang tak selamanya alat bunuh, kini banyak kau lihat itu sebagai alat perlambang status atau sekedar pajangan... Jika kau murid yang baik dan lebih berpengetahuan agama lebih baik dari guru silatmu, perlihatkanlah segala kebaikan yang kau pelajari dari agama buatlah ia bangga kau jadi muridnya. Nantinya tak perlu kau ajari seseorang guru yang telah terpikat oleh kebaikanmu.   
Jika gurumu berkata-kata, ingatlah. Jika ia memiliki kesalahan maafkanlah.
Jika ada terlihat jelek dan aib pada gurumu, jadikanlah pelajaran bahwa kau tak harus sepertinya, tetaplah ambil kebaikan yang ada padanya. Tinggalkanlah yang jelek. Karena meski keluar dari tempat yang sama, telur ayamlah yang diambil oleh kita untuk makan ketimbang yang lain.
Jika ia bergurau tetaplah anggap sebagai gurumu yang menggantikan orang tuamu mendidik. Jika kau senang bercanda, jadikan candamu untuk membuat gurumu tertawa dan terhibur, bukan menjadikan gurumu bahan tertawaanmu dan untuk menghibur orang lain
Jika saat bersedih, datang dan hibur meski kau tak memiliki apapun, kehadiran murid saat guru bersedih bagaikan orang tua yang bersedih namun didatangi anak-anaknya.
Jika ia memiliki kekurangan, cukupkanlah jika kau mampu dan tutupilah.
Tiap manusia memiliki kelebihan, pelajarilah kelebihannya itu. namun ia juga memiliki kekurangan maka tutupilah dengan daya dan upaya juga kelebihan yang kau miliki.
Dalam belajar jangan kau bawa apa yang kau miliki dan yang kau tahu, namun datanglah sebagai cawan yang kosong untuk dipenuhi oleh ilmu yg akan ia bagi. Jangan kau isikan cawanmu dulu, karena tak selamanya yang dicampur akan memiliki rasa baik.
Merendahlah di hadapan seorang gurumu nak, itu akan menaikkan derajatmu di mata orang lain. Namun jangan kau rendah diri saat kau hanya belajar silat di halaman rumah gurumu yang hanya sepetak atau hingga tak memiliki lahan, gurumu melatihmu di dapur. Bahagialah kau nak, memiliki guru yang rela memberi ‘ruang pribadi’ yang seharusnya tabu dimasuki orang lain namun boleh kau gunakan. Itu penghargaan guru terhadap murid, terimalah. Jadikan pelajaran bagimu bahwa banyak cara orang yang harus kau pahami dan hargai.
Sekalipun nantinya guru silatmu hanyalah seorang tukang becak, pedagang asongan, hansip, penjaga pintu kereta api atau seorang tukang sampah sekalipun, tetaplah belajar padanya tak perlu malu. Jangan kau melihat artian hidup ini hanya dari buku yang dibuat, namun belajarlah dari kehidupan. Filosofi silat itu nyata di depan matamu nak. Jangan kau merasa rendah diri dengan belajar pada mereka yang hanya memiliki pekerjaan yang menurutmu di bawahmu. Dan jangan pula hanya dengarkan makna dari artian filosofi bela diri yang dibuat orang dan bangsa lain yang telah tertata di dalam bukunya, hidup ini tertata bukan seperti urutan dalam buku namun tertata dalam keunikannya. Jangan pula menghakimi bahwa nilai filosofi sebuah pencak silat itu tak sedalam bela diri luar. Banggalah jadi bagian bangsa ini, jika kau nanti bertemu dengan kawanmu yang membanggakan guru besar bela diri asingnya seorang profesor yang merumuskan makna kehidupan dan harmonisasi kehidupan itu dengan bukunya. Tetaplah bangga dengan gurumu yang meski hanya seorang tukang becak atau pedagang asongan sekalipun, ia tetaplah gurumu, cam kan itu ! Biarkanlah ia selesai membanggakan makna dan artian filosofi bela dirinya, dengarkanlah dengan seksama. Lalu perhatikanlah. Katakanlah padanya, jika seorang profesor dan ahli bela diri lalu mengajarkan makna kehidupan dan harmonisasi kehidupan pada muridnya yang hanya mahasiswa atau pelajar itu bukanlah hal hebat sebenarnya, yang mencerminkan artian dari makna kehidupan. Memberi saat berlebih adalah wajar, namun memberi pada saat hanya memiliki satu-satunya yang kau miliki itu adalah luar biasa. Adalah hal biasa jika kau temui orang berpendidikan berkecukupan memberikan ilmunya kemudian dipatok dengan harga. Namun jika orang yang papa memberikan ilmu yang hanya dimiliki satu-satunya dan hanya dengan bayaran ke“ikhlas”anmu itu adalah luar biasa, begitu juga jika tukang becak atau pedagang asongan mengajarkan ilmu yang hanya satu-satunya ia miliki dan mau berbagi pada yang lebih kaya dari padanya, itulah yang luar biasa. Dan adalah suatu kebanggan luar biasa jika kau yang mahasiswa mau belajar pada orang yang tak memiliki latar belakang akademis dan gelar pendidikan formal, itulah kerendahan hati dan kemauan belajar yang sesungguhnya. Itulah makna filosofi yang terdalam…Nah, itulah yang akan kau temui dan miliki.
Nak, jika kau anak yang serius, maka buatlah gurumu kagum dengan keseriusanmu mengkaji ilmunya itu.
Nak, mungkin kau lelah dengan nasehat ini, tapi inilah yang akan kau hadapi jika ingin menjadi pesilat. Karena begitu gelar pesilat tersandang dibahumu, itu tak otomatis menjadikanmu apa yang sedang kau pelajari menjadi milikmu. Ilmu itu akan menjadi milikmu jika gurumu telah menganggapmu pantas menerimanya dan mengamanatkannya padamu untuk diajarkan lagi pada orang lain. Kau akan menjadi bagian dari suatu perguruan atau aliran silat jika kau telah mempelajarinya lama dan sungguh-sungguh, jangan mengganggapnya ilmu itu milikmu jika kau baru dapat hanya bagian permukaan, jangan kau menganggap itu milikmu jika  kau belum berbakti padanya.
Nak, pesilat itu gelar gratis yang berat dan teramat berat jika disandang dipundakmu, jangan kau jadi pesilat kalau cuma sekadar ikut-ikutan. Jangan pula berharap jadi pesilat kalau kau cuma untuk ditakuti orang. Jadilah pesilat yang takut pada Tuhanmu, diterima semua orang, dihargai dan dihormati teman dan segani lawan.
Juga jangan berharap silatmulah yang menyelamatkan hidup dari bahaya, namun berpikirlah bahwa usaha belajarmu itulah yang membuahkan hasil hingga mengetuk pintu rahmat Allah yang dapat menyelamatkan diri dari bahaya. Allah-lah yang tetap menyelamatkanmu, nak. Tak perlu menjadi pesilat jika kau tak berpikir dan bertindak sebagaimana pesilat.
Nak, jika kau tak mampu mengerti dan pahami serta tak sanggup memenuhi apa yang dinasehatkan tadi, urungkanlah niatmu jadi pesilat. Datangilah calon guru silatmu itu dan mintalah maaf karena memang dirimulah yang tak sanggup memikul beban menjadi pesilat. Tetaplah berhubungan dengannya…..

hari telah larut nak, tidurlah....

Jakarta, 20 mei 2011




dari catatannya Iwan Setiawan (FP2STI)

Senin, 28 Februari 2011

Mie Instan VS Silat


Siapa sih yang gak tau mie instan, rasanya semua orang indonesia makanan favoritnya mie instan deh, apalagi kalo pas lagi hujan-hujan, pas lagi kumpul2, pas lagi kemping dan pas lagi gak PUNYA DUIT (pengalaman pastinya).
Entah kenapa mie instan itu terasa nikmat padahal nilai gizinya belum tentu memenuhi kebutuhan gizi kita sehari-hari, apa karena MURAHnya? mudah dimasaknya/ INSTAN? atau memang karena RASAya?
Saya rasa semuanya masuk dalam hitungan. Mie instan jelas lebih murah daripada makan nasi dan lauk pauk, kenyangnya juga sama. Mie instan karena mudahnya dimasak tinggal direbus doang bahkan ada yang bisa langsung disiram air panas, rasanya juga udah ada berbagai rasa yang pastinya mirip dengan makanannya yang asli.
Lantas apa hubungannya Mie instan dengan Silat? Sebenernya gak ada hubungannya selain, kalau habis latihan enaknya makan mie instan,hehehe…
Mari kita umpamakan silat seperti mie instan. Silat bukan hal baru di Indonesia, siapa yang tidak mengenal silat.  Anak kecil sampai aki-aki dan ninik-ninik aja tahu silat (sekedar tahu doang juga gak papa bagusnya ya mesti bisa). Silat, katanya berasal dari Indonesia, Indonesia di teriak-teriakkan sebagai tuan rumahnya silat.  Ikut latihan silat tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam karena termasuk kategori olahraga MURAH setelah joging (mahalan juga joging, liat aja tuh sepatu lari di mall, harganya bisa ngabisin gaji pegawai pabrik sebulan, kalau silat cukup modal celana silat/celana pangsi yang harganya gak seberapa, kecuali jadi atlit, apalagi atlit yang sudah diatas tingkat nasional, bisa berjuta2 harga seragamnya). Silat juga sebenarnya tergolong MUDAH alias INSTAN, terbukti dari anak-anak, orang dewasa sampe orang tua masih bisa belajar silat, tergantung niat dan kemauan mereka sajalah. Silat kalo dibandingin dengan yang lain RASAnya pasti lebih nikmat dari olahraga yang lain, ada rasa sabandar, cikalong, cimande, sera,  harimau, kumango, tuo, dan yang lainnya, itu baru dari rasa kalo dari bumbunya ada jurusnya yang beraneka ragam yang kalau dikumpulkan bisa jadi perpustakaan, ada ibingannya yang tiap daerah beda-beda, ada tenaga dalamnya, ada ilmu pengobatannya, wah pokoknya silat itu RASAnya komplit dah.
Lantas kalau Mie instan saja bisa digemari oleh masyarakat kenapa silat tidak bisa? Apa masalahnya?
Lihatlah mie instan, diwarung besar sampai supermarket menjualnya, maka silat juga harus seperti itu, dari kampung kecil sampai kota besar, dari halaman rumah sampai gedung olahraga harusnya ada tempat latihan silat. Lihatlah Mie instan yang kemasannya biar dari pelastik tapi beraneka ragam, harusnya silat juga seperti itu. Lihatlah mie instan yang menjadi makanan pertama yang disalurkan untuk para korban bencana, silat haruslah menjadi kemampuan yang pertama digunakan untuk menangani kesulitan hidup.
MIE INSTAN memang MURAH tapi gak MURAHAN. SILAT memang dari KAMPUNG tapi gak KAMPUNGAN.
Sekian terima kasih…salam panjang umur dah buat silat….

mie vs silat

Selasa, 16 Februari 2010

Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan….

Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku. Berbagai tangggapan bermunculan. Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong dan Kumangonya. Beliau (yang mengatakan hal tersebut) dengan serta merta menerangkan apa itu Cikalong, apa itu Cimande dan juga Kumango. Sayang aku tak sempat berdiskusi dengannya. Sahabatku dan saudara perguruanku yang turut larut dalam pembicaraan itupun hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk. Mungkin karena menjaga sikap santunnya yang selama ini jarang menempel di kepalaku. Namun dalam hatiku cukup membuatku terhenyak, bagaimana mungkin sesuatu yang kami sedang angkat dan cukup berhati-hati dalam mengkaji yang memakan cukup banyak waktu langsung ke nara sumber yang terkait dibilang, ” Itu bukan asli…”

Tak hanya cukup bingung namun aku juga prihatin mendengarkan perkataannya, dalam beberapa penerangannya ternyata penggambaran tentang dari mana Cimande, apa itu Cikalong dan Kumango masih pada tataran sangat dasar yang diketahui banyak orang dan sama sekali tidak menggambarkan utuh bagaimana ciri suatu penggambaran bela diri pencak silat. Ketika berbicara Cimande dari kampung Mande, ternyata beliau tidak tahu bahwa sejak lama beberapa daerah di sana telah ditenggelamkan menjadi waduk. Saat berbicara mengenai Cikalong ternyata beliaupun tidak mengenal siapa penerus aliran ini dari garis penerus Gan Uweh ”Pasar Baru” yang ditampilkan begitu juga tentang pencak silat yang memiliki sikap pasang panjang adalah Cikalong dan Cimande rapat, inipun adalah gambaran umum yang dengan mudah didapat dari menguping atau katanya dengan sumber yang tidak jelas. Khusus Cikalong (maenpo Cikalong), penggambaran sikap yang panjang dan posisi kuda-kuda ringan adalah pola umum bukan merupakan indentitas khusus. Sebagaimana kita ketahui, aliran Cikalong adalah salah satu aliran pencak silat yang memberikan warna pada perkembangan pencak silat Jawa Barat juga tanah air. Apakah ketika kita ini bingung dengan warna asli Cikalong itu sendiri karena kita terbiasa dengan ”warna” yang berkembang??? Bagaimana mungkin menilai sebuah bentuk bela diri asli atau bukan tanpa mempelajari dan mendalami? Dengan latar belakang sama-sama pesilat, menurut saya hal tersebut melampaui kewenangan penilaiannya (dalam istilah anak gaul, belajar juga kagak kok berani monten?). tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau sebagai sesepuh pencak silat, kiranya juga beliau mau kita ajak diskusi dan membaca bahwa banyak lho kekayaan pencak silat kita itu.

Kumango yang kami jadikan bahan dalam garapan video proposal ESI adalah salah satu penerus yang juga diketahui oleh banyak orang dari Nagari Kumango sendiri dan itupun merupakan penerus aliran Syech Kumango ini (Almarhum Guru Gadangnyapun kami kenal dekat). Begitu juga dengan Pamacan, Gerak Gulung Budi Daya yang menampilkan beberapa Raka Wiranya, Cikalong yang menampilkan Guru Besar, Guru dan para murid yang merupakan penerus aliran ini yang telah diketahui oleh pemda Kabupaten Cianjur yang masuk ke dalam daftar pelestari seni budaya Cianjur yang insya Allah akan dimasukan dalam hak paten sebagai HAKI anak bangsa sebagai salah satu kekayaaan budaya bangsa, Si Bunder yang menampilkan generasi mudanya, Golok Suliwa yang langsung menampilkan sang Gurunya, Beksi Tradisional Haji Hasbullah yang merupakan salah satu perguruan yang memegang tradisi dan pakem yang berlaku. Mungkin menjadi hal yang biasa ketika pembicaraan ini adalah ajang tanya jawab.

Sebenarnya hal tersebut tak perlu aku pusingkan jika yang dibahas adalah bukan ranah dan apa yang sedang aku pelajari dan amanahkan menjaganya. Namun ketika berbicara maenpo Cikalong dan para guruku dianggap bukan asli, aku teringat kejadian yang berulang di Bandung tahun 1984 di mana ketika penampilan para murid waktu itu dianggap bukan asli karena tidak gagah dan di katakan sebagai silat perempuan (padahal saat itu maestro Cikalong, Raden Haji O. Soleh / Gan Uweh masih ada) Namun penilaian ini malah tidak membuat Guru Besar generasi IV marah, malah dikatakannya, ” keun bae disebut silat awewe oge…../ biar saja disebut silat perempuan juga” sekaligus menepis keraguan para murid terdahulu, beliau bilang semakin dianggap bukan Cikalong itu menandakan semakin tidak tahunya orang tersebut, maka biarkanlah….
Bukan bermaksud menempatkan menerapkan perkataan Guru Besar Raden Haji O. Soleh pada hal ini. Namun alangkah elok dan baik jika beliau yang mengatakan bahwa apa yang telah kami kerjakan ini bukan asli maka sebagai orang yang jauh lebih muda dan sebagai murid dari aliran Cikalong, adalah pantas jika aku juga meminta beliau ini untuk menerangkan Cikalong ”asli” versinya. Begitu senangnya aku berdiskusi aliran Cikalong yang dapat membukakan mata dan hatiku, tidak menepis kemungkinan akupun meminta data dan bagaimana mengenal Cikalong ”asli” nantinya dari beliau ini. Sekaligus meminta data dengan memulai diskusi yang santun dan elegan, aku mencoba menyampaikan hal ini.

Mungkin antara kenal dengan sok kenal itu dekat, tapi antara tahu dengan sok tahu, ahli dengan sok ahli itu jauh dan sangat jauh…..

Air kubangan memang dapat dijadikan alat melihat langit, namun jangan kita mengukur ketinggian langit dari air di kubangan.
ref : http://www.facebook.com/notes/iwan-setiawan/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/308047761911

(iwan setiawan)

Senin, 06 Juli 2009

Perjalanan Masih Panjang

Berdiri sejak tahun 1996 bahkan lebih lama dari itu, tampaknya sudah begitu banyak hal yang dilalui oleh salah satu ekskul yang tertua ini. mulai dari kurangnya peminat, berhenti latihan, dimasukkan kategori ekskul dengan anak-anak terbandel tapi juga mengalami masa kejayaan, peminat datang terus menerus, latihan ditambah jadwalnya dan sebagainya.

Mungkin awal terjadinya konflik ketika diangkatnya para pengurus baru yang menginginkan perubahan namun kini benar dirasakan, syahbandar lebih hidup, anggotanya lebih memaknai arti ajaran syahbandar itu sendiri daripada hanya mengerti jurus yang belum tentu kita mengerti maksudnya.

Tahun 2007 lalu diadakan perubahan yang mungkin termasuk perubahan besar dalam syahbandar. Sabuk hitam yang notabennya pemegang kendali perguruan mulai kehilangan semangat karena semakin berkurangnya personil mereka, akhirnya para sabuk merah dan biru yang masih punya semangat walaupun berkobar-kobar saja yang terkadang tanpa tindakan namun hal itu sudah cukup menghidupkan syahbandar kembali diangkat menduduki jabatan baru dan diberi tanggung jawab yang besar.

Awal tahun pertama pemberian jabatan sebagai asisten dewan pelatih kepada sabuk merah dan biru, agak canggung mulanya dalam melaksanakan tugasnya, masih butuh bimbingan. Tapi sudah mulai terlihat perubahan kearah kemajuan walau ada juga perubahan kearah kemunduran. tapi semua hal itu tetap harus disyukuri.

Hari ini tanggal 7 juli 2009, saya sebagai sekretaris sengaja menuliskan hal ini, berusaha mendongkrak dan mencari dukungan penuh dari segenap anggota keluarga besar PSTD SYAHBANDAR.

Kemarin tanggal 6 juli 2009, saya dan penanggung jawab pusat, Yulius Anomansyah, mulai mengajukan rancangan program latihan. dengan perubahan sangat besar, mungkin para anggota lama yang dulu ikut latihan dan sekarang ingin ikut latihan lagi rasanya akan sangat merasakan perubahan itu.

Saya dan Yulius memang membuat rancangan itu tanpa persetujuan terlebih dahulu dari para asisten dewan pelatih, namun ketika kami memberitahukan kepada mereka, awalnya mereka ragu tapi mereka berkata, "Kami memberi dukungan." Cukup lega rasanya saat itu.

Kemarin kami pergi ke rumah A`Adjie mantan dewan penanggung jawab yang kini menjabat sebagai salah satu dewan pembina dan mengajukan rancangan program tersebut, walaupun ada perubahan sedikit yang akan diadakan dalam peraturan dasar tapi rancangan kami tetap diterima begitu juga dengan dewan penanggungjawab saat ini a` Herry yang juga memberikan persetujuannya. tapi belum selesai tugas kami, masih harus memberitahukan ke ketua dewan pelatih dan pembina lain.

Mulai hari senin tanggal 13 juli 2009 kami sudah akan mulai menjalankan agenda pertama yaitu membuka pendaftaran dan mengadakan demo awal tahun. semoga sukses dan bisa menarik peminat. dan jalan kami masih satu tahun kedepan dengan target kejuaraan seni silat tahun depan, semoga sukses kawan-kawan dan semoga kita selalu seiya sekata...

sedikit bocoran tentang rancangan program latihan
- memasukkan jurus nasional dan internasional
- mengurangi porsi latihan jurus sb

salam Dolly

Rabu, 13 Mei 2009

Kitalah Yang Sebagai Tiang Utamanya

Sejak dibentuknya PSTD SYAHBANDAR ada yang sadar gak sih siapa sebenarnya yang menajadi motor penggerak setiap kegiatan dan setiap latihannya selama ini...

Para pendiri hanya membuka jalan, para pembina dan para pelatih hanya sebagai pengawas tapi kitlah yang menjadi tiang utamanya...apa jadinya kalau kita tak ada mungkin sudah sejak lama perguruan ini tak ada, mungkin juga kita tak saling kenal dan tak tahu apa itu yang namanya PSTD SYAHBANDAR...

Para Pembina dan Pelatih membimbing kita semua dalam menjalankan sebagian besar kegiatan di SB,,,mereka bagaikan para arsitek yang membangun sebuah gedung megah dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh...kitalah tiang yang besar dan kokoh itu...

Kita menjunjung apa yang sudah di cita-citakan para pendiri perguruan kita juga yang membangun cita-cita baru untuk SB...apa jadinya bila tak ada kita...jangankan cita-cita baru terbentuk mungkin cita-cita luhur para guru kita akan terbang terbawa angin dan hilang begitu saja...

marilah kita kokohkan lagi tiang-tiang yang semakin lama semakin rapuh dan kita dirikan bangunan yang megah yang akan menjaid tempat berlindung untuk siapa aja...marilah kita mendirikan bangunan megah yang namanya PSTD SYAHBANDAR...


Merindukan masa-masa dulu saat aku bukan siapa-sipa dan saat aku menikmati semua hal didalam SB...i love u SB...

Senin, 16 Februari 2009

KITA TAK SENDIRI DALAM MELESTARIKAN SILAT

Kadang kita dilarang oleh seseorang dalam berlatih silat, biasanya mereka mengatakan, "Buat apa ikut silat? silat itu kuno, ketinggalan jaman, silat itu pake makhluk halus. cari kegiatan yang lain saja."
lalu apa yang kita ucapkan saat itu?

Sedikit sekali yang menyangkah perkataan itu walaupun tau bagaimana menjawabnya.
Menurut saya hal itu terjadi karena kita hanya menganggap silat hanya sebuah kegiatan selingan yang nantinya bila bertemu dengan kegiatan yang lebih asik akan berhenti dan melupakan silat.

Berubahlah dan sadarlah, silat itu bukan hanya kegiatan selingan, silat itu salah satu ciri khas kita, ciri khas bangsa kita yang bila hilang maka hilang juga diri kita. Silat itu tanggung jawab kita sama seperti budaya kita yang lain.

Kita masih muda dan masih banyak ide-ide cemerlang untuk mengembangkan silat. Tak ada salahnya jika kita menyisihkan beberapa jam dari semua waktu yang kita punya dalam seminggu untuk memperhatikan, mempelajari, mencintai dan melestarikan silat. Kita pun tak akan rugi apalagi kalau silat sudah menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan untuk kita.

Perkenalanku dengan komunitas Sahabat silat dimulai dari tahun 2006 lalu. Awalnya aku kira komunitas itu hanya berisi orang-orang yang ahli dalam silat saja tapi ternyata tidak, dalam komunitas itu bukanlah keahlian dalam silat yang diprioritaskan namun kepedulian terhadap silatlah yang menjadi prioritas utama.

Melalui website sahabatsilat.com, kita dapat saling bertanya, memberikan pendapat dan bertukar pengalaman tentang silat dan hal-hal lainnya padahal mereka tak saling kenal tapi mereka dapat berbaur dalam dunia maya ketika berdiskusi. Melalui dunia maya mereka dapat menggaet para praktisi silat maupun para pecinta silat dan beladiri lainnya, ada juga yang berasal dari amerika, singapura, maupun dari negara lain.
Usaha para Sahabat Silat dalam melestarikan silat memang kadang menghadapi kendala namun berkat usaha yang keras akhirnya sahabat silat secara bertahap dapat mempublikasikan silat-silat tradisional melalui pemberitaan di koran tempo, publikasi dibeberapa stasiun televisi dan radio, bahkan langsung mengadakan workshop-workshop tentang silat. kita kapan bisa mengadakan workshop silat tercinta kita? yah untuk kalangan sekolah aja...sekalian ajang untuk cari pengalaman.

Untuk itu jangan menyerah dalam mengembangkan syahbandar, kita tak sendiri...masih banyak orang yang cinta dan peduli pada silat...