Selasa, 16 Februari 2010

Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan….

Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku. Berbagai tangggapan bermunculan. Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong dan Kumangonya. Beliau (yang mengatakan hal tersebut) dengan serta merta menerangkan apa itu Cikalong, apa itu Cimande dan juga Kumango. Sayang aku tak sempat berdiskusi dengannya. Sahabatku dan saudara perguruanku yang turut larut dalam pembicaraan itupun hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk. Mungkin karena menjaga sikap santunnya yang selama ini jarang menempel di kepalaku. Namun dalam hatiku cukup membuatku terhenyak, bagaimana mungkin sesuatu yang kami sedang angkat dan cukup berhati-hati dalam mengkaji yang memakan cukup banyak waktu langsung ke nara sumber yang terkait dibilang, ” Itu bukan asli…”

Tak hanya cukup bingung namun aku juga prihatin mendengarkan perkataannya, dalam beberapa penerangannya ternyata penggambaran tentang dari mana Cimande, apa itu Cikalong dan Kumango masih pada tataran sangat dasar yang diketahui banyak orang dan sama sekali tidak menggambarkan utuh bagaimana ciri suatu penggambaran bela diri pencak silat. Ketika berbicara Cimande dari kampung Mande, ternyata beliau tidak tahu bahwa sejak lama beberapa daerah di sana telah ditenggelamkan menjadi waduk. Saat berbicara mengenai Cikalong ternyata beliaupun tidak mengenal siapa penerus aliran ini dari garis penerus Gan Uweh ”Pasar Baru” yang ditampilkan begitu juga tentang pencak silat yang memiliki sikap pasang panjang adalah Cikalong dan Cimande rapat, inipun adalah gambaran umum yang dengan mudah didapat dari menguping atau katanya dengan sumber yang tidak jelas. Khusus Cikalong (maenpo Cikalong), penggambaran sikap yang panjang dan posisi kuda-kuda ringan adalah pola umum bukan merupakan indentitas khusus. Sebagaimana kita ketahui, aliran Cikalong adalah salah satu aliran pencak silat yang memberikan warna pada perkembangan pencak silat Jawa Barat juga tanah air. Apakah ketika kita ini bingung dengan warna asli Cikalong itu sendiri karena kita terbiasa dengan ”warna” yang berkembang??? Bagaimana mungkin menilai sebuah bentuk bela diri asli atau bukan tanpa mempelajari dan mendalami? Dengan latar belakang sama-sama pesilat, menurut saya hal tersebut melampaui kewenangan penilaiannya (dalam istilah anak gaul, belajar juga kagak kok berani monten?). tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau sebagai sesepuh pencak silat, kiranya juga beliau mau kita ajak diskusi dan membaca bahwa banyak lho kekayaan pencak silat kita itu.

Kumango yang kami jadikan bahan dalam garapan video proposal ESI adalah salah satu penerus yang juga diketahui oleh banyak orang dari Nagari Kumango sendiri dan itupun merupakan penerus aliran Syech Kumango ini (Almarhum Guru Gadangnyapun kami kenal dekat). Begitu juga dengan Pamacan, Gerak Gulung Budi Daya yang menampilkan beberapa Raka Wiranya, Cikalong yang menampilkan Guru Besar, Guru dan para murid yang merupakan penerus aliran ini yang telah diketahui oleh pemda Kabupaten Cianjur yang masuk ke dalam daftar pelestari seni budaya Cianjur yang insya Allah akan dimasukan dalam hak paten sebagai HAKI anak bangsa sebagai salah satu kekayaaan budaya bangsa, Si Bunder yang menampilkan generasi mudanya, Golok Suliwa yang langsung menampilkan sang Gurunya, Beksi Tradisional Haji Hasbullah yang merupakan salah satu perguruan yang memegang tradisi dan pakem yang berlaku. Mungkin menjadi hal yang biasa ketika pembicaraan ini adalah ajang tanya jawab.

Sebenarnya hal tersebut tak perlu aku pusingkan jika yang dibahas adalah bukan ranah dan apa yang sedang aku pelajari dan amanahkan menjaganya. Namun ketika berbicara maenpo Cikalong dan para guruku dianggap bukan asli, aku teringat kejadian yang berulang di Bandung tahun 1984 di mana ketika penampilan para murid waktu itu dianggap bukan asli karena tidak gagah dan di katakan sebagai silat perempuan (padahal saat itu maestro Cikalong, Raden Haji O. Soleh / Gan Uweh masih ada) Namun penilaian ini malah tidak membuat Guru Besar generasi IV marah, malah dikatakannya, ” keun bae disebut silat awewe oge…../ biar saja disebut silat perempuan juga” sekaligus menepis keraguan para murid terdahulu, beliau bilang semakin dianggap bukan Cikalong itu menandakan semakin tidak tahunya orang tersebut, maka biarkanlah….
Bukan bermaksud menempatkan menerapkan perkataan Guru Besar Raden Haji O. Soleh pada hal ini. Namun alangkah elok dan baik jika beliau yang mengatakan bahwa apa yang telah kami kerjakan ini bukan asli maka sebagai orang yang jauh lebih muda dan sebagai murid dari aliran Cikalong, adalah pantas jika aku juga meminta beliau ini untuk menerangkan Cikalong ”asli” versinya. Begitu senangnya aku berdiskusi aliran Cikalong yang dapat membukakan mata dan hatiku, tidak menepis kemungkinan akupun meminta data dan bagaimana mengenal Cikalong ”asli” nantinya dari beliau ini. Sekaligus meminta data dengan memulai diskusi yang santun dan elegan, aku mencoba menyampaikan hal ini.

Mungkin antara kenal dengan sok kenal itu dekat, tapi antara tahu dengan sok tahu, ahli dengan sok ahli itu jauh dan sangat jauh…..

Air kubangan memang dapat dijadikan alat melihat langit, namun jangan kita mengukur ketinggian langit dari air di kubangan.
ref : http://www.facebook.com/notes/iwan-setiawan/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/308047761911

(iwan setiawan)

Sabtu, 30 Januari 2010

Kunjungan Sb tangerang ke sb bogor

Rencana kunjungan sb tangerang ke sb slipi berjalan juga akhirnya. Walaupun terdapat banyak hambatan didalamnya seperti waktu keberangkatan yang super ngaret, kehujanan, kelaparan dan ada yang ketinggalan.

Sampai di bogor tepatnya di depan perumahan yang dituju. Tunggu dijemput selama beberapa menit, sambil nunggu arif dan musa solat. Sampai ketemu para anggota sb bogor dirumah sandi (aspel). Disana disambut ramah oleh sandi dan yang lainnya. Setelah beberapa waktu mengobrol disana anggota sb tangerang diantar ke rumah pembimbing yaitu pa tatang, sebentar kami bertukar cerita tentang sejarah perguruan, orang-orang yang latihan pertama kali, tentang keilmuannya, ya sekedar menghabiskan waktu sampai hujan berhenti.

Setelah hujan berhenti para anggota dari sb tangerang dan bogor mengadakan pelatihan bareng dipimpin sandi sebagai perwakilan tuan rumah. Sekitar 2 jam kita latihan bersama. Cukup melelahkan dan cukup bikin badan pegel2lah.

Pulang dari bogor sekitar jam 12 dan sampai kembali ditangerang sekitar jam 3 pagi.

Banyak kejadian lucu dibalik kegiatan ini, mulai dari anggota yang ketinggalan, ngegodain senior, sampe motor kehabisan bensin. Hehehehe

Terima kasih atas sambutannya dari anggota sb bogor. Semoga silaturahmi tetap berjalan.

Selasa, 12 Januari 2010

Dari dunia maya hingga dunia nyata

Tak dipungkiri lagi bahwa dunia maya membawa pengaruh yang besar pada dunia nyata. dari sekedar blog tempat pemberitaan dan tulisan asal-asalan berlanjut menjadi pertemuan dan silaturahmi.

10 januari 2010, minggu, tak disangka hanya dari sebuah blog dapat bertemu dengan rekan seperguruan di bogor. Awalnya mereka hanya ingin ziarah ke pintu seribu dan ingin menikmati suasana pantai tapi kemudian setelah bertemu dengan perwakilan dari Sb tangerang (Dolly dan Yulius) perjalanan mereka justru menjadi sebuah kegiatan yang tak diduga yaiu silaturahmi ke tempat latihan SB tangerang (SMAN 6 Tangerang).
Sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi, tak pernah bertemu sebelumnya dan hanya berkomunikasi lewat telepon genggam tapi begitu akrab ketika bertemu, itulah mungkin sifat dari pesilat,,,

Sekitar jam 11 siang Perwakilan SB tangerang menemui mereka di masjid pintu seribu. Sebentar mengobrol dengan mereka disana, sebagai perkenalan saja. Lalu kembali bertemu dipantai tanjung pasir. Awalnya perwakilan sb hanya ingin menikmati suasana pantai siang itu, sambil saling mengetahui latar belakang masing-masing pihak, tapi ternyata justru menjadi sebuah latihan bareng, tak lama hanya setengah jam mungkin, latihan jurus tenaga dalam sebentar dan latihan teknik tendangan sebentar.

Sedikit bujuk rayuan agar mereka pun datang berkunjung ke tempat latihan Sb tangerang di keluarkan, tepat jam 1/2 5 sore mereka sampai di SMAN 6 Tangerang. Mereka membersihkan diri disana sambil melihat dan mengamati latihan yang sedang berlangsung, walau yang ikut latihan hanya sedikit tapi tak mengurangi antusiasme mereka untuk menyaksikan dan bertanya langsung.

Wah silaturahmi semakin terbuka dan terjalin, semoga akan terus bertambah dan semakin luas untuk mengembangkan Sb di tanah air.

Next project for SB tangerang : Slipi-Bogor

Sedikit Info nih,,,semalem dapat kabar tentang SB cilodong, moga berlanjut deh jadi pertemuan.

by DM